Teman baik saya menanyakan
tentang persoalan yang dialaminya dengan kelas 1 dengan berbagai kemampuan
muridnya. Beberapa muridnya masih kesulitan membaca dan menulis, sedangkan ada
kelompok yang sudah lebih mandiri.
Hal ini memang sering terjadi di permulaan
kelas 1, dimana tiap anak tidak memiliki bekal yang sama dari apa yang
diajarkan waktu TK dahulu. Bahkan masih ada yang tidak menempuh pendidikan
Taman Kanak-kanak. Ada TK yang memang benar-benar mempersiapkan anak untuk
dapat menjalani tes yang kini marak dilakukan pada penerimaan murid baru SD.
Sebenarnya kurikulum TK boleh mengajarkan calistung secara klasikal, namun
kurikulum SD yang SUPER padat membuat anak harus mempelajarinya agar tidak
tertinggal di SD ini.
TK yang memegang teguh pembagian
ini dan menekankan pembelajaran pada eksplorasi dan minat-bakat anak, mungkin
akan menghasilkan murid-murid kelas 1 yang belum selancar anak-anak lain dalam
calistungnya. Ada sisi positif dari tidak ditekankannya calistung di usia TK,
yaitu dia akan merasa puas bermain dan siap untuk memasuki gerbang sekolah
dasar.
Perbedaan kemampuan ini yang bisa
menghambat kelancaran dalam transfer ilmu di dalam kelas. Kelompok yang masih
harus dibimbing menjadi penyedot perhatian guru, sedangkan murid-murid yang
sudah mandiri dapat merasa sedikit terabaikan.
Kembali ke teman saya, dia
bertanya ,”Apa saya harus terus-terusan membuat soal dengan level yang berbeda
setiap mata pelajaran?”. Sekolahnya ini termasuk full day madrasah dengan waktu
sekolah jam 7.00 – 15.30. Waktu yang panjang ini tidak memungkinkannya untuk
memberikan tambahan di luar waktu sekolah.
Menurut saya, soal dengan level
yang berbeda bisa menimbulkan beberapa permasalahan seperti :
1. Kelompok
mandiri akan merasa iri dengan kemudahan soal level rendah, dan merasa tidak
dihargai kerja kerasnya dalam mengerjakan soal.
2. Kelompok
yang masih dibimbing bisa selalu menantikan soal yang lebih mudah dalam setiap
tes. Hal ini bisa mengakibatkan mereka menjadi kurang berjuang dan
menggantungkan pada ‘kemurahan hati’ si pembuat soal.
3. Guru
terus direpotkan dengan membuat soal berbagai level setiap tes dilakukan, hal
ini membuat mereka kehilangan waktu untuk mengerjakan yang lainnya.
4. Pada
akhirnya ketika tes Diknas dilaksanakan hanya ada SATU set soal untuk semua
murid. Jika kelompok ‘terbantu’ diberi soal yang sama dengan kelompok mandiri,
mereka akan merasa kurang dengan sedikitnya soal yang bisa mereka kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar