What We Do

What We Do

Minggu, 30 September 2012

Kelas Dengan Berbagai Level Kemampuan


Teman baik saya menanyakan tentang persoalan yang dialaminya dengan kelas 1 dengan berbagai kemampuan muridnya. Beberapa muridnya masih kesulitan membaca dan menulis, sedangkan ada kelompok yang sudah lebih mandiri.
Hal ini memang sering terjadi di permulaan kelas 1, dimana tiap anak tidak memiliki bekal yang sama dari apa yang diajarkan waktu TK dahulu. Bahkan masih ada yang tidak menempuh pendidikan Taman Kanak-kanak. Ada TK yang memang benar-benar mempersiapkan anak untuk dapat menjalani tes yang kini marak dilakukan pada penerimaan murid baru SD. Sebenarnya kurikulum TK boleh mengajarkan calistung secara klasikal, namun kurikulum SD yang SUPER padat membuat anak harus mempelajarinya agar tidak tertinggal di SD ini.
TK yang memegang teguh pembagian ini dan menekankan pembelajaran pada eksplorasi dan minat-bakat anak, mungkin akan menghasilkan murid-murid kelas 1 yang belum selancar anak-anak lain dalam calistungnya. Ada sisi positif dari tidak ditekankannya calistung di usia TK, yaitu dia akan merasa puas bermain dan siap untuk memasuki gerbang sekolah dasar.
Perbedaan kemampuan ini yang bisa menghambat kelancaran dalam transfer ilmu di dalam kelas. Kelompok yang masih harus dibimbing menjadi penyedot perhatian guru, sedangkan murid-murid yang sudah mandiri dapat merasa sedikit terabaikan.
Kembali ke teman saya, dia bertanya ,”Apa saya harus terus-terusan membuat soal dengan level yang berbeda setiap mata pelajaran?”. Sekolahnya ini termasuk full day madrasah dengan waktu sekolah jam 7.00 – 15.30. Waktu yang panjang ini tidak memungkinkannya untuk memberikan tambahan di luar waktu sekolah.
Menurut saya, soal dengan level yang berbeda bisa menimbulkan beberapa permasalahan seperti :
1.       Kelompok mandiri akan merasa iri dengan kemudahan soal level rendah, dan merasa tidak dihargai kerja kerasnya dalam mengerjakan soal.
2.       Kelompok yang masih dibimbing bisa selalu menantikan soal yang lebih mudah dalam setiap tes. Hal ini bisa mengakibatkan mereka menjadi kurang berjuang dan menggantungkan pada ‘kemurahan hati’ si pembuat soal.
3.       Guru terus direpotkan dengan membuat soal berbagai level setiap tes dilakukan, hal ini membuat mereka kehilangan waktu untuk mengerjakan yang lainnya.
4.       Pada akhirnya ketika tes Diknas dilaksanakan hanya ada SATU set soal untuk semua murid. Jika kelompok ‘terbantu’ diberi soal yang sama dengan kelompok mandiri, mereka akan merasa kurang dengan sedikitnya soal yang bisa mereka kerjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar