Pernah dengar namanya unconditional love?
Katanya itulah jenis cinta yang diberikan seorang ortu dengan anaknya dan anak dengan ortunya.
OK, untuk cinta ortu dengan anaknya sudah pasti. Kecuali kasus-kasus tertentu, setiap orang tua selalu ingin agar anaknya tumbuh sehat, pintar, selamat, dll. dengan memberikan segala yang terbaik sejauh apa yang mereka bisa. Dalam kenyataannya, banyak yang salah kaprah. Orang tua bekerja sangat keras, membanting tulang, memeras keringat, dari pagi sampai malam, untuk memberikan fasilitas yang terbaik bagi anaknya. Sekolah yang biayanya pake dollar, guru privat lulusan perguruan tinggi ternama, les ini-itu di tempat-tempat bergengsi, menyediakan uang saku diluar kewajaran.
Sedangkan si anak hanya bertemu sekali-dua kali dalam sehari, itupun tidak lebih dari 10 menit. Bagaimana dia bisa percaya dengan unconditional love? apalagi memberikannya untuk orang yang jarang ia temui.
Pernah memperhatikan bayi menangis? Dia menangis sekeras-kerasnya, sekuat-kuatnya, sampai mukanya memerah, untuk apa? menarik perhatian. Karena ia belajar dari pengalaman kalau ia menangis semakin keras, perhatian yang ia dapat semakin banyak.
Nah, apa bedanya dengan kenakalan remaja yang marak sekarang ini? sex bebas, tawuran sampai meregang nyawa, narkoba, dan banyak lagi. Itu adalah bentuk lain tangisannya. Ia belajar ketika ia berbuat nakal, orang tuanya meluangkan waktu lebih lama, walau hanya memarahinya. Ia merasakan sedikit perhatian lebih dari orang tuanya. Ia tahu jalan pintas untuk meraih orang tuanya.
Teman-temanku haruskah kita menunggu sampai hal itu terjadi? Saya teringat ketika melihat video dari Sir Ken Robinson tentang pendidikan. Di akhir video itu, ia mengutip satu puisi tentang seseorang yang ingin memberikan segala harta benda berkilau di bawah kaki orang yang dicintainya, tetapi ia hanya punya mimpinya, di puisi itu ia berkata ,"aku cuma punya mimpi, yang kutaruh di bawah kedua kakimu, maka jalinlah dengan lembut."Lalu ia melanjutkan bahwa setiap hari, setiap waktu anak-anak menempatkan mimpi-mimpinya di bawah kaki kita, maka jalinlah dengan lembut mimpi-mimpi itu. I was on tears when he said that.
Anak-anak pada mulanya memang menyerahkan segala cinta yang ia punya pada orang tuanya, karena kepercayaan mereka mutlak. "Ini orang yang membawaku ke dunia ini, yang kulihat ketika membuka mata, yang wajahnya selalu memancarkan kebanggaan dan cinta padaku".
Namun, apa yang terjadi ketika kepercayaan itu memudar? Ketika hari-harinya diisi dengan waktu bermain bersama pengasuhnya, ketika ia menunjukkan hasil karyanya yang acak-acakan dengan bangga pada mamanya yang tidak memperlihatkan respon positif karena sudah kecapaian bekerja, apalagi ketika waktu bersekolah sudah mulai. Maka, ia menjalin kepercayaan itu dengan orang-orang yang sekiranya mencintainya, memberikan perhatian lebih padanya.
Jadi, temanku, janganlah percaya bahwa sebagaimanapun orang tua, anak akan selalu mencintainya. Don't take your children's love for granted. You have to make effort for it. Harus berusaha, harus diraih, dipelihara, dan dikembangkan. Berikan senyuman paling lebar ketika ia bangun tidur, bersikaplah atentif pada kegiatannya, bagikan kegiatanmu dengan bahasa yang sederhana padanya, usaplah kepalanya dan peluklah. Lambat laun, mimpi-mimpi itu akan mulai terjalin lagi di bawah kakimu, dan kau tahu kali ini ajan menjalinnya dengan lembut.
What We Do
Minggu, 30 September 2012
Attention Craving Kid
Kasus khusus nih :
“Aku punya murid kelas 1 nih, belum bisa baca dan menulis
masih sering salah tulis. Malah pernah nulis dari kanan. Dia di rumah lebih
banyak sendirian bersama pegawai ortunya. Ortunya sibuk sampai malam, jadi
tidak bisa mendampingi. Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun.
Nulis kadang mau, kadang gak. Harus dibujuk-bujuk untuk belajar baca. Lebih
suka bermain-main, lari-lari dan teriak-teriak. Ortunya meminta dengan sangat
ke aku untuk memberikan perhatian belajar lebih ke dia. 2 minggu kemarin,
ortunya datang, menemui kepsek untuk meminta pendampingan lebih. Lalu kepsek
minta aku dan guru pendamping untuk memberikan perhatian lebih ke murid ini,
sampai ortunya memberi ongkos untukpendampingan lebih. Padahal sekarang anaknya
sama sekali ga mau belajar. What should I do?”
Mari kita bahas bersama-sama, my friend :
·
“Dia di rumah lebih banyak sendirian… Ortunya sibuk
sampai malam…” Tipe anak jaman sekarang banget ya… Papa sibuk, mama arisan…
hehehe… sebagai guru kita memang tidak bisa menuntut ortu untuk mengubah ritme
kerja atau mengurangi kesibukan demi bersama anak. Karena jelas banyak ortu
yang bertindak sebagai customer, dan guru adalah penyedia jasa. Yang kita
lakukan adalah menerima keadaannya dan menciptakan suasana terbaik di sekolah
sehingga dia tidak merasa sama diacuhkannya di sekolah. Ciptakan keadaan yang
membuat dia merasa diterima. Sambut dia tiap pagi dengan senyum, tanyakan
bagaimana keadaannya hari ini, senangkah ia akan apa yang akan ia terima pagi
ini. Banyak menyentuhnya sebagai tanda sayang dan perhatian. Berikan pujian
setiap dia melakukan hal yang positif. Anjurkan dia dalam menetapkan sikapnya
seperti “Eh, kalau Ade mau belajar membaca, Ade jadi bisa bawa buku cerita itu
pulang untuk dibacakan ke mama.” Dengarkan setiap keluh kesahnya.
·
“Ortunya datang, menemui kepsek… memberi ongkos
untukpendampingan lebih…” Terbukti kan dugaanku. Ini dia yang bertindak sebagai
customer sejati. “Aku bayar berapa aja deh, asal anakku bisa pintar, gak
ketinggalan, gak ngerepotin” Masalahnya, para orang tua, kepintaran dan
keberhasilan anak itu bukan sesuatu yang instan dan bisa terwujud dengan tambahan
beberapa ratus ribu rupiah atau beberapa juta. Bukan seperti proses produksi
yang ketika macet, dilihat permasalahannya, panggil mekanik, beli alat-alat,
bayar mekaniknya, kalau perlu sampai lembur, pokoknya besok harus sudah gerak
lagi. Anak bukan hanya butuh fasilitas, tetapi butuh perhatian, kasih sayang, dan
dukungan. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan adalah memberi senyuman terlebar
ketika anak bangun tidur, menanyakan apakah ia senang di sekolah ketika pulang
dari sekolah (bukan “tadi belajar apa saja? Ulanganmu dapat berapa?”), member pelukan
dan kecupan sesering mungkin. Kira-kira bisa ga kita sebagai guru meminta ortu
untuk melakukan hal-hal kecil namun berarti ini?
·
“Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat
menurun…. Harus dibujuk-bujuk… sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar”
Kalau dilihat dan digabung dengan kondisinya, murid ini sudah merasa haus. Haus
akan perhatian dan kasih sayang. Dia masuk ke dalam lingkungan yang baru,
teman-teman baru, sendirian tanpa dukungan. Kemampuannya belum selancar teman
yang lainnya dan dia tidak punya tempat untuk meminta bantuan. Ketika orang
tuanya diberi tahu keterbatasan kemampuan baca-tulisnya, alih-alih membantu,
orang tuanya mungkin malah memarahi dan memaksanya belajar dengan mendatangkan
guru. Sebagai guru suatu kelas, memang tidak bisa perhatian kita terfokus pada
satu murid, karena ada murid-murid yang lainnya yang mempunyai hak yang sama. Bagaimana
kalau memberikannya aturan main khusus, yang lain dengan temannya? Bisa juga
dengan mengajakknya berbicara empat mata, memberi tahu bahwa di sekolah dia
diterima, tidak ada yang perlu ditakuti tetapi ada aturan yang harus ia penuhi.
Ketika ia tidak sedang di kelas, bagaimana mengajak teman-temannya untuk
bergantian membantunya, sehingga ia merasa diperhatikan oleh temannya?
Yang paling penting adalah membuatnya nyaman kembali di
sekolah. Kayaknya tiap pagi dia juga pasti susah dibujuk untuk sekolah, karena
dia ga tahu kenapa harus ke tempat dimana ngasih tambahan alasan orang tuanya
untuk memarahi dia. Coba raih kembali kepercayaannya. Biarkan dia membuka diri.
Mungkin dia lebih nyaman berbicara
dengan guru yang lainnya? Dekati guru tersebut dan ceritakan situasinya. Beri
dia tanggung jawab lebih di kelas. Mungkin kalau dia suka dengan hewan,
mintalah ia tiap hari untuk memberi makan kelinci peliharaan, sehingga dia
punya satu alasan untuk pergi ke sekolah. So, my dear friend, please reach her
because the others (her parents) won’t.
Membaca, Bagi anak Kelas 1
Anak saya, A, baru duduk di kelas 1. Untungnya saya bisa
memasukkannya ke sekolah dengan kelas kecil. Saat ini dia sedang sering
ulangan, terkadang hingga 2 ulangan dalam satu hari. Jika saya menyanyakan apa
yang baru kami baca bersama atau apa yang baru saja ia baca dengan keras, A
bingung mencari jawabannya.
Tahukah Anda saudara2, bagi anak seusianya, membaca suatu
kalimat, paragraph, atau satu bahasan adalah pencapaian yang sangat hebat. Namun,
pemahamannya belum secepat kemampuan membacanya. Gini ajalah, pernah lihat anak
kelas 1 terbahak-bahak melihat satu komik strip yang minim kata-kata? Tidak
bukan? Karena mereka perlu waktu memahami gambar, apalagi satu halaman penuh
kata2!
Anak saya senang membeli buku komik bergambar seperti “Smurf”,
“Tin-tin”, dan kawan-kawannya. Dia menghabiskan waktu yang lama untuk pindah ke
halaman selanjutnya, walau saya tahu kecepatan membacanya. Prosesnya, dia membaca, dia melihat gambar,
menemukan korelasi gambar dan katanya, membaca lagi, menebak-nebak maksudnya,
membaca lagi, melihat gambarnya lagi, dan baru dia tertawa.
Bagaimana membuat anak mengerti apa yang dia baca? Bisa
dengan :
1.
Menimbulkan keingintahuannya dulu sebelum
memintanya membaca. Seperti sebelum membahas sains tentang anggota tubuh, guru
membuat peran bagaimana rasanya bila mereka tidak memiliki satu anggota tubuh,
seperti menutup mata murid, menyumbat mulutnya, dan sebagainya.
2.
Membaca secara bergantian dan menjelaskan setiap
akan berganti ke murid lain. Bisa juga ketika akan berganti, meminta teman yang
lain untuk menceritakan apa maksud bacaan yang baru didengarnya.
3.
Memintanya menceritakan kembali apa maksud
bacaan tadi. Guru atau pendamping bisa membantunya menyusun kata-kata, seperti “Jadi,
maksudnya tadi kalau kamu ingin mata kamu tetap sehat, kamu harus apa ya?”
4.
Membuat peta pikiran (mind map) tentang bacaan.
Ini hal yang sangat berguna sebagai ringkasan. Karena lebih gamblang dan tidak
banyak cing-cong.
5.
Membuat bersama daftar kata-kata penting yang
mewakili bacaan tadi dan bersama-sama menceritakan kembali.
6.
Memberi contoh yang jelas, seperti sebelum murid
mengerjakan tes, berilah contoh bagaimana menjawab soal-soalnya. Untuk pilihan
ganda bisa diberi contoh seperti : Kalau akan sekolah, aku memakai …. a.
piyama b. seragam c. baju renang. Tanyakan mana yang benar,
dan tunjukkan bagaimana menyilang hurufnya.
Kelas 1 Baru, New School, Whole New Experience
Saya selalu salut dengan guru kelas 1, karena mereka
memegang beban terberat dibanding guru yang di kelas-kelas selanjutnya. Banyak
sekali yang harus mereka ajarkan pada muridnya. Tetapi menurut saya yang terpenting
adalah adaptasi dan pembiasaan. Murid-murid yang baru keluar dari TK yang penuh
keceriaan dan main-main dihadapkan pada situasi dan aturan yang berbeda.
Bayangkan ketika tiba-tiba Anda ditugaskan ke negeri antah
berantah yang segalanya sama sekali berbeda dari Indonesia dan Anda diminta
berangkat sesegera mungkin. Begitu pesawat mendarat, telpon Anda berbunyi dari
kantor tempat Anda bekerja, meminta Anda untuk langsung mengisi posisi. Dengan
bahasa yang asing, budaya yang baru, dan teman kerja yang tidak Anda kenal,
bayangkan betapa susahnya keadaan ini. Dan bayangkan hal itu terjadi pada anak
umur 6 tahun!!!!
A good friend of mine, a very experienced first grade
teacher said : satu bulan pertama adalah masa penting untuk membentuk suasana
kelas satu tahun ke depan. Bulan pertama di sekolah bukanlah harus dijejali
oleh pelajaran-pelajaran yang mereka sendiri tidak pernah bertemu sebelumnya (‘apa
itu IPS?’ ‘apa bedanya sama IPA?’). Akan sangat menyenangkan baik bagi murid
maupun gurunya jika dalam satu bulan diisi dengan perkenalan dan adaptasi. Hey,
anak ini akan menghabiskan paling tidak 6 tahun di sekolah yang sama. Apa ‘membosankan’
‘melelahkan’ dan ‘membingungkan’ merupakan kesan pertama yang bagus?? No way,
man!
Satu bulan pertama bisa diisi dengan:
·
mendekatkan murid dengan gurunya, dengan
teman-temannya, dan dengan lingkungan sekolahnya. Wali kelas mutlak wajib kudu
mendapatkan kepercayaan penuh dari seluruh murid di kelasnya. Dan kepercayaan
ini tidak dapat diminta begitu saja, tetapi murid akan memberika secara
sukarela ketika dia melihat sosok wali muridnya ternyata adalah sosok yang
percaya pada kemampuannya, yang ingin melihatnya berkembang, pihak yang bisa
dia ajak bicara.
·
Memberi kebebasan mereka untuk bercerita tentang
keluarga, kegiatan liburannya, atau kegiatan yang disenanginya. Kalau mereka
diberi ruangan untuk berekspresi, mereka akan merasa diterima sebagai individu
yang unik.
·
Memperkenalkan aturan-aturan yang terdapat dalam
kelas, apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan. Hal ini dilakukan dengan
penuh afeksi, bukan represif. Memberi tahu dengan jelas apa konsekuensi dan
reward yang bisa mereka dapat sebagi akibat dari perlakuan mereka. Yang perlu
ditekankan adalah guru harus member alasan setiap ada kejadian yang membuat
guru marah. Bukan marah-marah yang tidak jelas juntrungannya.
·
Memperkenalkan mereka pada macam-macam tes yang
mungkin mereka nanti hadapi seperti pilihan ganda, mengisi titik-titik, dan
mencocokkan jawaban dan soal.
·
Membuat tiap perkenalan bidang studi menjadi
sesuatu yang menarik dan akhirnya mereka setuju bahwa bidang itu penting untuk
dipelajari. Misalnya, PKn disamakan seperti memperkenalkan aturan dalam kelas. Tanyakan
bagaimana kalau kelas tidak ada aturannya, pasti kacau. Hal-hal seperti ini
yang akan mereka pelajari nantinya.
·
Dan banyak aktivitas yang guru bisa berika
secara menyenangkan lainnya.
Kalau Masalahnya Kesusahan Menerima Materi
Kesulitan murid dalam mengerti materi bisa dikarenakan berbagai
hal seperti :
1.
Materinya terlalu abstrak dan tidak sinkron
dengan pengalaman hidupnya sehari-hari. Anak yang tidak memiliki budhe atau
tante di kehidupan nyatanya akan kesulitan menerima bahwa ‘bibi adalah adik
perempuan Ibu’. Waktu anakku mulai pelajaran tentang keluarga, ditanya ibu perempuan ayahnya disebut ..., dia jawab Uti!!! Kalau bisa dekatkan sebisa mungkin dengan kehidupan sehari-harinya dan membawa benda yang bisa mereka amati dan pegang. Primary resources is a must. Untuk penambahan dan pengurangn pake biji-bijian. Keluarga pake foto keluarga.
2.
Murid tidak menemukan pentingnya materi itu
dalam hidupnya. Seperti apa gunanya ia belajar tentang keluarga atau
macam-macam agama. Karena kebanyakan anak-anak masih berpusat pada dirinya
sendiri, maka ia harus mengetahui pentingnya mempelajari suatu hal. Dan hal ini pas banget kalau disampaikan pada awal-awal kelas baru atau bulan pertama memasuki kelas 1.
3.
Guru memberikan materi seperti menuangkan air
dari teko dengan tidak melihat cangkirnya sudah terlalu penuh atau belum. Ini dia sindrom guru dikejar-kejar KD (bagi yg belon tahu, Kompetensi Dasar). Nah ketika menyampaikan materi yang harus dilakukan adalah :
1. Bangkitkan dulu rasa ingin tahu mereka. Jangan masuk, langsung perintah buka halaman bla-bla-bla, dan ngoceh ga karuan, sedangkan murid otaknya belum ready. Pemanasan itu penting, temanku, bukan cuma waktu olah raga fisik. karena pengetahuan baru itu adalah olah raga otak. dimana setiap pengetahuan baru akan menambah ribuan neuron baru di otaknya.
2. Kalau bisa bawakan gambar atau benda asli yang bisa murid lihat, pegang , dan rasakan. Masih ingat pepatah "I experience and I remember"? Itu yg harus dipegang. Sebisa mungkin membawa tool yang mewakili materinya.
3. Perhatikan wajah-wajah tiap murid. ketika mereka sudah merasa 'penuh', akan terlihat dari hilangnya konsentrasi mereka. Maka potonglah materi dalam beberapa sesi. Bisa diselingi dengan permainan. Cangkir yang terlalu penuh tidak akan bisa menampung curahan air lagi, bukan?
4. Jangan memeriksa pemahaman dengan bertanya "Ngerti ga? Do you understand?" Oh no no no, a big fat NO. Memeriksa pemahaman bisa dengan meminta mereka menuliskan kesimpulan yang mereka dapat dari materi yang baru saja dijelaskan.
5. Mengecek pemahaman bukan hanya dari tes. Tes memang jalan yang paling mudah tapi bukan satu-satunya temanku.
Kalau Masalahnya Membaca dan Menulis
Dari sisi permasalahan teman saya
ini, saya jadi berpikir apa kesulitan murid-murid yang harus dibimbing ini
karena kesulitan mereka membaca dan menulis atau karena memang sulit mengerti
materinya?
Jika masalahnya ada pada
kemampuan membaca dan menulisnya, maka, temanku, yang harus dilakukan adalah
mengejar level kefasihan membaca dan menulisnya. Ada beberapa hal yang mungkin
dilakukan :
1. Memberi
tambahan dalam waktu sekolah. Karena tidak memungkinkan memberi program
penyelarasan (‘bridging’) diluar waktu sekolah, lakukan saja ketika waktu sekolah. Bisa dengan
memberi tambahan di jam-jam pelajaran muatan lokal sekolah dengan meminta ijin
pada gurunya. Murid-murid ini kemudian di-drill kemampuan membaca dan
menulisnya. Atau meminta 5 menit dari waktu istirahat atau waktu bebasnya untuk
pergi ke ruang guru, menemui wali kelas dan membaca keras beberapa halaman buku
cerita.
Guru harus
mencari metode yang terbaik dalam membangkitkan semangat membaca dan menulis
anak.
Cara-caranya
bisa dengan :
·
Coba metode seperti iqra’ dimana anak tidak
diajarkan mengeja tetapi langsung menyebutkan per suku kata. Tulis dengan
spidol berwarna beda setiap suku kata. Contoh :
sandal
·
Dengan flash card bergambar. Jadi anak cepat
mengerti bentuk tulisan dan bunyinya. Memiliki flash card bisa digunakan dalam
berbagai permainan. Seperti mencocokkan gambar dan tulisan atau meminta anak
menulis benda apa yang terdapat di kartu.
·
Untuk menulis, bisa dengan meminta anak menulis
di kartu pos bergambar, katakan itu untuk dikirimkan ke neneknya. Atau mengisi
kartu anggota untuk jadi Fans Club Cherrybelle.
·
Memberikannya cerita pendek untuk dibacakan dengan
keras dan mintalah untuk dibawa pulang. Minta murid untuk membaca dengan orang
tuanya. Keesokan harinya, ajukan pertanyaan tertulis tentang buku tersebut.
Anak bisa menjawab secara oral atau tulisan.
·
Mintalah anak membawa foto liburannya. Buatlah
album kenangan dengan menempelkan foto dan ia menuliskan apa yang ia alami
disana.
2.
Memberi anak tambahan tugas membaca dan menulis
yang tidak begitu memberatkan. Bisa dengan :
·
Meminta anak menulis kartu ulang tahun untuk
temannya
·
Memberi anak kartu-kartu yang berisi suku kata,
bisa sekitar 5-6 kartu. Suku katanya yang mudah digabung untuk jadi kata-kata.
Seperti san, ka, dal, pe, dan nya. Minta ia bermain menggabungkan suku kata itu
dan menuliskan atau menunjukkan keesokan harinya pada gurunya berapa kata yang sudah
berhasil ia dapat.
·
Memintanya menuliskan 5 benda yang ia sukai di
rumah/ 5 benda yang bisa ia lihat di kulkas rumahnya/ 5 binatang yang bisa ia
lihat di taman / dll.
3.
Menuliskan kata-kata kunci di awal pembelajaran,
sehingga murid bisa lebih lancar mengikuti dan memahami apa yang guru berikan.
4.
Bekerja sama dengan orang tua. Dalam hal ini,
guru harus bisa mengkomunikasikan secara gambling bagaimana kemampuan anaknya,
serta program yang ingin dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca
dan menulisnya. Setelah itu, mintalah mereka untuk meluangkan sedikit waktu
untuk membantu program ini, bisa dengan :
·
Meminta mereka menempelkan kartu-kartu kata di
benda-benda sekitar rumah. 10 benda saja. Lalu setiap mereka melewati benda
tersebut dengan anaknya, bersama-sama menyebutkan nama benda sambil menunjuk.
pintu
Ketika anak sudah lancar, kartu itu diganti dengan kartu-kartu yang lain
untuk benda-benda yang lain pula.
·
Meluangkan waktu atau meminta pendamping anak
membacakan cerita sambil menunjuk kata-katanya. Setiap hari dalam waktu yang
singkat. Jadi ceritanya, cerita pendek saja.
·
Meminta anak menulis sebagian pesanan makanan
ketika makan di luar. Misal minumannya saja.
·
Ayah mengajak anak membuat kartu untuk Bunda,
bekerja sama dengan si anak.
·
Menunjuk kata-kata ketika berjalan-jalan diluar
dan meminta anak membacanya, tetapi dengan sikap membimbing dan jangan
memarahi.
Dengan meningkatkan kemampuan membaca dan menulisnya, ia
bisa lebih mengerti pelajarannya dan meningkatkan kemampuannya di kelas.
Langganan:
Postingan (Atom)
