What We Do

What We Do

Minggu, 30 September 2012

Don't Take Your Children's Love For Granted!

Pernah dengar namanya unconditional love?
Katanya itulah jenis cinta yang diberikan seorang ortu dengan anaknya dan anak dengan ortunya.

OK, untuk cinta ortu dengan anaknya sudah pasti. Kecuali kasus-kasus tertentu, setiap orang tua selalu ingin agar anaknya tumbuh sehat, pintar, selamat, dll. dengan memberikan segala yang terbaik sejauh apa yang mereka bisa. Dalam kenyataannya, banyak yang salah kaprah. Orang tua bekerja sangat keras, membanting tulang, memeras keringat, dari pagi sampai malam, untuk memberikan fasilitas yang terbaik bagi anaknya. Sekolah yang biayanya pake dollar, guru privat lulusan perguruan tinggi ternama, les ini-itu di tempat-tempat bergengsi, menyediakan uang saku diluar kewajaran.

Sedangkan si anak hanya bertemu sekali-dua kali dalam sehari, itupun tidak lebih dari 10 menit. Bagaimana dia bisa percaya dengan unconditional love? apalagi memberikannya untuk orang yang jarang ia temui.

Pernah memperhatikan bayi menangis? Dia menangis sekeras-kerasnya, sekuat-kuatnya, sampai mukanya memerah, untuk apa? menarik perhatian. Karena ia belajar dari pengalaman kalau ia menangis semakin keras, perhatian yang ia dapat semakin banyak.

Nah, apa bedanya dengan kenakalan remaja yang marak sekarang ini? sex bebas, tawuran sampai meregang nyawa, narkoba, dan banyak lagi. Itu adalah bentuk lain tangisannya. Ia belajar ketika ia berbuat nakal, orang tuanya meluangkan waktu lebih lama, walau hanya memarahinya. Ia merasakan sedikit perhatian lebih dari orang tuanya. Ia tahu jalan pintas untuk meraih orang tuanya.

Teman-temanku haruskah kita menunggu sampai hal itu terjadi? Saya teringat ketika melihat video dari Sir Ken Robinson tentang pendidikan. Di akhir video itu, ia mengutip satu puisi tentang seseorang yang ingin memberikan segala harta benda berkilau di bawah kaki orang yang dicintainya, tetapi ia hanya punya mimpinya, di puisi itu ia berkata ,"aku cuma punya mimpi, yang kutaruh di bawah kedua kakimu, maka jalinlah dengan lembut."Lalu ia melanjutkan bahwa setiap hari, setiap waktu anak-anak menempatkan mimpi-mimpinya di bawah kaki kita, maka jalinlah dengan lembut mimpi-mimpi itu. I was on tears when he said that.

Anak-anak pada mulanya memang menyerahkan segala cinta yang ia punya pada orang tuanya, karena kepercayaan mereka mutlak. "Ini orang yang membawaku ke dunia ini, yang kulihat ketika membuka mata, yang wajahnya selalu memancarkan kebanggaan dan cinta padaku".

Namun, apa yang terjadi ketika kepercayaan itu memudar? Ketika hari-harinya diisi dengan waktu bermain bersama pengasuhnya, ketika ia menunjukkan hasil karyanya yang acak-acakan dengan bangga pada mamanya yang tidak memperlihatkan respon positif karena sudah kecapaian bekerja, apalagi ketika waktu bersekolah sudah mulai. Maka, ia menjalin kepercayaan itu dengan orang-orang yang sekiranya mencintainya, memberikan perhatian lebih padanya.

Jadi, temanku, janganlah percaya bahwa sebagaimanapun orang tua, anak akan selalu mencintainya. Don't take your children's love for granted. You have to make effort for it. Harus berusaha, harus diraih, dipelihara, dan dikembangkan. Berikan senyuman paling lebar ketika ia bangun tidur, bersikaplah atentif pada kegiatannya, bagikan kegiatanmu dengan bahasa yang sederhana padanya, usaplah kepalanya dan peluklah. Lambat laun, mimpi-mimpi itu akan mulai terjalin lagi di bawah kakimu, dan kau tahu kali ini ajan menjalinnya dengan lembut.

Attention Craving Kid


Kasus khusus nih :
“Aku punya murid kelas 1 nih, belum bisa baca dan menulis masih sering salah tulis. Malah pernah nulis dari kanan. Dia di rumah lebih banyak sendirian bersama pegawai ortunya. Ortunya sibuk sampai malam, jadi tidak bisa mendampingi. Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun. Nulis kadang mau, kadang gak. Harus dibujuk-bujuk untuk belajar baca. Lebih suka bermain-main, lari-lari dan teriak-teriak. Ortunya meminta dengan sangat ke aku untuk memberikan perhatian belajar lebih ke dia. 2 minggu kemarin, ortunya datang, menemui kepsek untuk meminta pendampingan lebih. Lalu kepsek minta aku dan guru pendamping untuk memberikan perhatian lebih ke murid ini, sampai ortunya memberi ongkos untukpendampingan lebih. Padahal sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar. What should I do?”
Mari kita bahas bersama-sama, my friend :
·         “Dia di rumah lebih banyak sendirian… Ortunya sibuk sampai malam…” Tipe anak jaman sekarang banget ya… Papa sibuk, mama arisan… hehehe… sebagai guru kita memang tidak bisa menuntut ortu untuk mengubah ritme kerja atau mengurangi kesibukan demi bersama anak. Karena jelas banyak ortu yang bertindak sebagai customer, dan guru adalah penyedia jasa. Yang kita lakukan adalah menerima keadaannya dan menciptakan suasana terbaik di sekolah sehingga dia tidak merasa sama diacuhkannya di sekolah. Ciptakan keadaan yang membuat dia merasa diterima. Sambut dia tiap pagi dengan senyum, tanyakan bagaimana keadaannya hari ini, senangkah ia akan apa yang akan ia terima pagi ini. Banyak menyentuhnya sebagai tanda sayang dan perhatian. Berikan pujian setiap dia melakukan hal yang positif. Anjurkan dia dalam menetapkan sikapnya seperti “Eh, kalau Ade mau belajar membaca, Ade jadi bisa bawa buku cerita itu pulang untuk dibacakan ke mama.” Dengarkan setiap keluh kesahnya.
·         “Ortunya datang, menemui kepsek… memberi ongkos untukpendampingan lebih…” Terbukti kan dugaanku. Ini dia yang bertindak sebagai customer sejati. “Aku bayar berapa aja deh, asal anakku bisa pintar, gak ketinggalan, gak ngerepotin” Masalahnya, para orang tua, kepintaran dan keberhasilan anak itu bukan sesuatu yang instan dan bisa terwujud dengan tambahan beberapa ratus ribu rupiah atau beberapa juta. Bukan seperti proses produksi yang ketika macet, dilihat permasalahannya, panggil mekanik, beli alat-alat, bayar mekaniknya, kalau perlu sampai lembur, pokoknya besok harus sudah gerak lagi. Anak bukan hanya butuh fasilitas, tetapi butuh perhatian, kasih sayang, dan dukungan. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan adalah memberi senyuman terlebar ketika anak bangun tidur, menanyakan apakah ia senang di sekolah ketika pulang dari sekolah (bukan “tadi belajar apa saja? Ulanganmu dapat berapa?”), member pelukan dan kecupan sesering mungkin. Kira-kira bisa ga kita sebagai guru meminta ortu untuk melakukan hal-hal kecil namun berarti ini?
·         “Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun…. Harus dibujuk-bujuk… sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar” Kalau dilihat dan digabung dengan kondisinya, murid ini sudah merasa haus. Haus akan perhatian dan kasih sayang. Dia masuk ke dalam lingkungan yang baru, teman-teman baru, sendirian tanpa dukungan. Kemampuannya belum selancar teman yang lainnya dan dia tidak punya tempat untuk meminta bantuan. Ketika orang tuanya diberi tahu keterbatasan kemampuan baca-tulisnya, alih-alih membantu, orang tuanya mungkin malah memarahi dan memaksanya belajar dengan mendatangkan guru. Sebagai guru suatu kelas, memang tidak bisa perhatian kita terfokus pada satu murid, karena ada murid-murid yang lainnya yang mempunyai hak yang sama. Bagaimana kalau memberikannya aturan main khusus, yang lain dengan temannya? Bisa juga dengan mengajakknya berbicara empat mata, memberi tahu bahwa di sekolah dia diterima, tidak ada yang perlu ditakuti tetapi ada aturan yang harus ia penuhi. Ketika ia tidak sedang di kelas, bagaimana mengajak teman-temannya untuk bergantian membantunya, sehingga ia merasa diperhatikan oleh temannya?
Yang paling penting adalah membuatnya nyaman kembali di sekolah. Kayaknya tiap pagi dia juga pasti susah dibujuk untuk sekolah, karena dia ga tahu kenapa harus ke tempat dimana ngasih tambahan alasan orang tuanya untuk memarahi dia. Coba raih kembali kepercayaannya. Biarkan dia membuka diri. Mungkin  dia lebih nyaman berbicara dengan guru yang lainnya? Dekati guru tersebut dan ceritakan situasinya. Beri dia tanggung jawab lebih di kelas. Mungkin kalau dia suka dengan hewan, mintalah ia tiap hari untuk memberi makan kelinci peliharaan, sehingga dia punya satu alasan untuk pergi ke sekolah. So, my dear friend, please reach her because the others (her parents) won’t.

Membaca, Bagi anak Kelas 1


Anak saya, A, baru duduk di kelas 1. Untungnya saya bisa memasukkannya ke sekolah dengan kelas kecil. Saat ini dia sedang sering ulangan, terkadang hingga 2 ulangan dalam satu hari. Jika saya menyanyakan apa yang baru kami baca bersama atau apa yang baru saja ia baca dengan keras, A bingung mencari jawabannya.
Tahukah Anda saudara2, bagi anak seusianya, membaca suatu kalimat, paragraph, atau satu bahasan adalah pencapaian yang sangat hebat. Namun, pemahamannya belum secepat kemampuan membacanya. Gini ajalah, pernah lihat anak kelas 1 terbahak-bahak melihat satu komik strip yang minim kata-kata? Tidak bukan? Karena mereka perlu waktu memahami gambar, apalagi satu halaman penuh kata2!
Anak saya senang membeli buku komik bergambar seperti “Smurf”, “Tin-tin”, dan kawan-kawannya. Dia menghabiskan waktu yang lama untuk pindah ke halaman selanjutnya, walau saya tahu kecepatan membacanya.  Prosesnya, dia membaca, dia melihat gambar, menemukan korelasi gambar dan katanya, membaca lagi, menebak-nebak maksudnya, membaca lagi, melihat gambarnya lagi, dan baru dia tertawa.
Bagaimana membuat anak mengerti apa yang dia baca? Bisa dengan :
1.       Menimbulkan keingintahuannya dulu sebelum memintanya membaca. Seperti sebelum membahas sains tentang anggota tubuh, guru membuat peran bagaimana rasanya bila mereka tidak memiliki satu anggota tubuh, seperti menutup mata murid, menyumbat mulutnya, dan sebagainya.
2.       Membaca secara bergantian dan menjelaskan setiap akan berganti ke murid lain. Bisa juga ketika akan berganti, meminta teman yang lain untuk menceritakan apa maksud bacaan yang baru didengarnya.
3.       Memintanya menceritakan kembali apa maksud bacaan tadi. Guru atau pendamping bisa membantunya menyusun kata-kata, seperti “Jadi, maksudnya tadi kalau kamu ingin mata kamu tetap sehat, kamu harus apa ya?”
4.       Membuat peta pikiran (mind map) tentang bacaan. Ini hal yang sangat berguna sebagai ringkasan. Karena lebih gamblang dan tidak banyak cing-cong.
5.       Membuat bersama daftar kata-kata penting yang mewakili bacaan tadi dan bersama-sama menceritakan kembali.
6.       Memberi contoh yang jelas, seperti sebelum murid mengerjakan tes, berilah contoh bagaimana menjawab soal-soalnya. Untuk pilihan ganda bisa diberi contoh seperti : Kalau akan sekolah, aku memakai …. a. piyama   b. seragam   c. baju renang. Tanyakan mana yang benar, dan tunjukkan bagaimana menyilang hurufnya.

Kelas 1 Baru, New School, Whole New Experience


Saya selalu salut dengan guru kelas 1, karena mereka memegang beban terberat dibanding guru yang di kelas-kelas selanjutnya. Banyak sekali yang harus mereka ajarkan pada muridnya. Tetapi menurut saya yang terpenting adalah adaptasi dan pembiasaan. Murid-murid yang baru keluar dari TK yang penuh keceriaan dan main-main dihadapkan pada situasi dan aturan yang berbeda.
Bayangkan ketika tiba-tiba Anda ditugaskan ke negeri antah berantah yang segalanya sama sekali berbeda dari Indonesia dan Anda diminta berangkat sesegera mungkin. Begitu pesawat mendarat, telpon Anda berbunyi dari kantor tempat Anda bekerja, meminta Anda untuk langsung mengisi posisi. Dengan bahasa yang asing, budaya yang baru, dan teman kerja yang tidak Anda kenal, bayangkan betapa susahnya keadaan ini. Dan bayangkan hal itu terjadi pada anak umur 6 tahun!!!!
A good friend of mine, a very experienced first grade teacher said : satu bulan pertama adalah masa penting untuk membentuk suasana kelas satu tahun ke depan. Bulan pertama di sekolah bukanlah harus dijejali oleh pelajaran-pelajaran yang mereka sendiri tidak pernah bertemu sebelumnya (‘apa itu IPS?’ ‘apa bedanya sama IPA?’). Akan sangat menyenangkan baik bagi murid maupun gurunya jika dalam satu bulan diisi dengan perkenalan dan adaptasi. Hey, anak ini akan menghabiskan paling tidak 6 tahun di sekolah yang sama. Apa ‘membosankan’ ‘melelahkan’ dan ‘membingungkan’ merupakan kesan pertama yang bagus?? No way, man!
Satu bulan pertama bisa diisi dengan:
·         mendekatkan murid dengan gurunya, dengan teman-temannya, dan dengan lingkungan sekolahnya. Wali kelas mutlak wajib kudu mendapatkan kepercayaan penuh dari seluruh murid di kelasnya. Dan kepercayaan ini tidak dapat diminta begitu saja, tetapi murid akan memberika secara sukarela ketika dia melihat sosok wali muridnya ternyata adalah sosok yang percaya pada kemampuannya, yang ingin melihatnya berkembang, pihak yang bisa dia ajak bicara.
·         Memberi kebebasan mereka untuk bercerita tentang keluarga, kegiatan liburannya, atau kegiatan yang disenanginya. Kalau mereka diberi ruangan untuk berekspresi, mereka akan merasa diterima sebagai individu yang unik.
·         Memperkenalkan aturan-aturan yang terdapat dalam kelas, apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan. Hal ini dilakukan dengan penuh afeksi, bukan represif. Memberi tahu dengan jelas apa konsekuensi dan reward yang bisa mereka dapat sebagi akibat dari perlakuan mereka. Yang perlu ditekankan adalah guru harus member alasan setiap ada kejadian yang membuat guru marah. Bukan marah-marah yang tidak jelas juntrungannya.
·         Memperkenalkan mereka pada macam-macam tes yang mungkin mereka nanti hadapi seperti pilihan ganda, mengisi titik-titik, dan mencocokkan jawaban dan soal.
·         Membuat tiap perkenalan bidang studi menjadi sesuatu yang menarik dan akhirnya mereka setuju bahwa bidang itu penting untuk dipelajari. Misalnya, PKn disamakan seperti memperkenalkan aturan dalam kelas. Tanyakan bagaimana kalau kelas tidak ada aturannya, pasti kacau. Hal-hal seperti ini yang akan mereka pelajari nantinya.
·         Dan banyak aktivitas yang guru bisa berika secara menyenangkan lainnya.

Kalau Masalahnya Kesusahan Menerima Materi


Kesulitan murid dalam mengerti materi bisa dikarenakan berbagai hal seperti :
1.       Materinya terlalu abstrak dan tidak sinkron dengan pengalaman hidupnya sehari-hari. Anak yang tidak memiliki budhe atau tante di kehidupan nyatanya akan kesulitan menerima bahwa ‘bibi adalah adik perempuan Ibu’. Waktu anakku mulai pelajaran tentang keluarga, ditanya ibu perempuan ayahnya disebut ..., dia jawab Uti!!! Kalau bisa dekatkan sebisa mungkin dengan kehidupan sehari-harinya dan membawa benda yang bisa mereka amati dan pegang. Primary resources is a must. Untuk penambahan dan pengurangn pake biji-bijian. Keluarga pake foto keluarga.
2.       Murid tidak menemukan pentingnya materi itu dalam hidupnya. Seperti apa gunanya ia belajar tentang keluarga atau macam-macam agama. Karena kebanyakan anak-anak masih berpusat pada dirinya sendiri, maka ia harus mengetahui pentingnya mempelajari suatu hal. Dan hal ini pas banget kalau disampaikan pada awal-awal kelas baru atau bulan pertama memasuki kelas 1.
3.       Guru memberikan materi seperti menuangkan air dari teko dengan tidak melihat cangkirnya sudah terlalu penuh atau belum. Ini dia sindrom guru dikejar-kejar KD (bagi yg belon tahu, Kompetensi Dasar). Nah ketika menyampaikan materi yang harus dilakukan adalah :
              1. Bangkitkan dulu rasa ingin tahu mereka. Jangan masuk, langsung perintah buka halaman bla-bla-bla, dan ngoceh ga karuan, sedangkan murid otaknya belum ready. Pemanasan itu penting, temanku, bukan cuma waktu olah raga fisik. karena pengetahuan baru itu adalah olah raga otak. dimana setiap pengetahuan baru akan menambah ribuan neuron baru di otaknya.
              2. Kalau bisa bawakan gambar atau benda asli yang bisa murid lihat, pegang , dan rasakan. Masih ingat pepatah "I experience and I remember"? Itu yg harus dipegang. Sebisa mungkin membawa tool yang mewakili materinya.
               3. Perhatikan wajah-wajah tiap murid. ketika mereka sudah merasa 'penuh', akan terlihat dari hilangnya konsentrasi mereka. Maka potonglah materi dalam beberapa sesi. Bisa diselingi dengan permainan. Cangkir yang terlalu penuh tidak akan bisa menampung curahan air lagi, bukan?
                4. Jangan memeriksa pemahaman dengan bertanya "Ngerti ga? Do you understand?" Oh no no no, a big fat NO. Memeriksa pemahaman bisa dengan meminta mereka menuliskan kesimpulan yang mereka dapat dari materi yang baru saja dijelaskan. 
                5. Mengecek pemahaman bukan hanya dari tes. Tes memang jalan yang paling mudah tapi bukan satu-satunya temanku.

Kalau Masalahnya Membaca dan Menulis


Dari sisi permasalahan teman saya ini, saya jadi berpikir apa kesulitan murid-murid yang harus dibimbing ini karena kesulitan mereka membaca dan menulis atau karena memang sulit mengerti materinya?
Jika masalahnya ada pada kemampuan membaca dan menulisnya, maka, temanku, yang harus dilakukan adalah mengejar level kefasihan membaca dan menulisnya. Ada beberapa hal yang mungkin dilakukan :
1.       Memberi tambahan dalam waktu sekolah. Karena tidak memungkinkan memberi program penyelarasan (‘bridging’) diluar waktu sekolah,  lakukan saja ketika waktu sekolah. Bisa dengan memberi tambahan di jam-jam pelajaran muatan lokal sekolah dengan meminta ijin pada gurunya. Murid-murid ini kemudian di-drill kemampuan membaca dan menulisnya. Atau meminta 5 menit dari waktu istirahat atau waktu bebasnya untuk pergi ke ruang guru, menemui wali kelas dan membaca keras beberapa halaman buku cerita.
Guru harus mencari metode yang terbaik dalam membangkitkan semangat membaca dan menulis anak.
Cara-caranya bisa dengan :
·         Coba metode seperti iqra’ dimana anak tidak diajarkan mengeja tetapi langsung menyebutkan per suku kata. Tulis dengan spidol berwarna beda setiap suku kata. Contoh :
sandal
·         Dengan flash card bergambar. Jadi anak cepat mengerti bentuk tulisan dan bunyinya. Memiliki flash card bisa digunakan dalam berbagai permainan. Seperti mencocokkan gambar dan tulisan atau meminta anak menulis benda apa yang terdapat di kartu.
·         Untuk menulis, bisa dengan meminta anak menulis di kartu pos bergambar, katakan itu untuk dikirimkan ke neneknya. Atau mengisi kartu anggota untuk jadi Fans Club Cherrybelle.
·         Memberikannya cerita pendek untuk dibacakan dengan keras dan mintalah untuk dibawa pulang. Minta murid untuk membaca dengan orang tuanya. Keesokan harinya, ajukan pertanyaan tertulis tentang buku tersebut. Anak bisa menjawab secara oral atau tulisan.
·         Mintalah anak membawa foto liburannya. Buatlah album kenangan dengan menempelkan foto dan ia menuliskan apa yang ia alami disana.
2.       Memberi anak tambahan tugas membaca dan menulis yang tidak begitu memberatkan. Bisa dengan :
·         Meminta anak menulis kartu ulang tahun untuk temannya
·         Memberi anak kartu-kartu yang berisi suku kata, bisa sekitar 5-6 kartu. Suku katanya yang mudah digabung untuk jadi kata-kata. Seperti san, ka, dal, pe, dan nya. Minta ia bermain menggabungkan suku kata itu dan menuliskan atau menunjukkan keesokan harinya pada gurunya berapa kata yang sudah berhasil ia dapat.
·         Memintanya menuliskan 5 benda yang ia sukai di rumah/ 5 benda yang bisa ia lihat di kulkas rumahnya/ 5 binatang yang bisa ia lihat di taman / dll.
3.       Menuliskan kata-kata kunci di awal pembelajaran, sehingga murid bisa lebih lancar mengikuti dan memahami apa yang guru berikan.
4.       Bekerja sama dengan orang tua. Dalam hal ini, guru harus bisa mengkomunikasikan secara gambling bagaimana kemampuan anaknya, serta program yang ingin dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulisnya. Setelah itu, mintalah mereka untuk meluangkan sedikit waktu untuk membantu program ini, bisa dengan :
·         Meminta mereka menempelkan kartu-kartu kata di benda-benda sekitar rumah. 10 benda saja. Lalu setiap mereka melewati benda tersebut dengan anaknya, bersama-sama menyebutkan nama benda sambil menunjuk.
pintu
Ketika anak sudah lancar, kartu itu diganti dengan kartu-kartu yang lain untuk benda-benda yang lain pula.
·         Meluangkan waktu atau meminta pendamping anak membacakan cerita sambil menunjuk kata-katanya. Setiap hari dalam waktu yang singkat. Jadi ceritanya, cerita pendek saja.
·         Meminta anak menulis sebagian pesanan makanan ketika makan di luar. Misal minumannya saja.
·         Ayah mengajak anak membuat kartu untuk Bunda, bekerja sama dengan si anak.
·         Menunjuk kata-kata ketika berjalan-jalan diluar dan meminta anak membacanya, tetapi dengan sikap membimbing dan jangan memarahi.
Dengan meningkatkan kemampuan membaca dan menulisnya, ia bisa lebih mengerti pelajarannya dan meningkatkan kemampuannya di kelas.