What We Do

What We Do

Minggu, 30 September 2012

Attention Craving Kid


Kasus khusus nih :
“Aku punya murid kelas 1 nih, belum bisa baca dan menulis masih sering salah tulis. Malah pernah nulis dari kanan. Dia di rumah lebih banyak sendirian bersama pegawai ortunya. Ortunya sibuk sampai malam, jadi tidak bisa mendampingi. Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun. Nulis kadang mau, kadang gak. Harus dibujuk-bujuk untuk belajar baca. Lebih suka bermain-main, lari-lari dan teriak-teriak. Ortunya meminta dengan sangat ke aku untuk memberikan perhatian belajar lebih ke dia. 2 minggu kemarin, ortunya datang, menemui kepsek untuk meminta pendampingan lebih. Lalu kepsek minta aku dan guru pendamping untuk memberikan perhatian lebih ke murid ini, sampai ortunya memberi ongkos untukpendampingan lebih. Padahal sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar. What should I do?”
Mari kita bahas bersama-sama, my friend :
·         “Dia di rumah lebih banyak sendirian… Ortunya sibuk sampai malam…” Tipe anak jaman sekarang banget ya… Papa sibuk, mama arisan… hehehe… sebagai guru kita memang tidak bisa menuntut ortu untuk mengubah ritme kerja atau mengurangi kesibukan demi bersama anak. Karena jelas banyak ortu yang bertindak sebagai customer, dan guru adalah penyedia jasa. Yang kita lakukan adalah menerima keadaannya dan menciptakan suasana terbaik di sekolah sehingga dia tidak merasa sama diacuhkannya di sekolah. Ciptakan keadaan yang membuat dia merasa diterima. Sambut dia tiap pagi dengan senyum, tanyakan bagaimana keadaannya hari ini, senangkah ia akan apa yang akan ia terima pagi ini. Banyak menyentuhnya sebagai tanda sayang dan perhatian. Berikan pujian setiap dia melakukan hal yang positif. Anjurkan dia dalam menetapkan sikapnya seperti “Eh, kalau Ade mau belajar membaca, Ade jadi bisa bawa buku cerita itu pulang untuk dibacakan ke mama.” Dengarkan setiap keluh kesahnya.
·         “Ortunya datang, menemui kepsek… memberi ongkos untukpendampingan lebih…” Terbukti kan dugaanku. Ini dia yang bertindak sebagai customer sejati. “Aku bayar berapa aja deh, asal anakku bisa pintar, gak ketinggalan, gak ngerepotin” Masalahnya, para orang tua, kepintaran dan keberhasilan anak itu bukan sesuatu yang instan dan bisa terwujud dengan tambahan beberapa ratus ribu rupiah atau beberapa juta. Bukan seperti proses produksi yang ketika macet, dilihat permasalahannya, panggil mekanik, beli alat-alat, bayar mekaniknya, kalau perlu sampai lembur, pokoknya besok harus sudah gerak lagi. Anak bukan hanya butuh fasilitas, tetapi butuh perhatian, kasih sayang, dan dukungan. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan adalah memberi senyuman terlebar ketika anak bangun tidur, menanyakan apakah ia senang di sekolah ketika pulang dari sekolah (bukan “tadi belajar apa saja? Ulanganmu dapat berapa?”), member pelukan dan kecupan sesering mungkin. Kira-kira bisa ga kita sebagai guru meminta ortu untuk melakukan hal-hal kecil namun berarti ini?
·         “Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun…. Harus dibujuk-bujuk… sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar” Kalau dilihat dan digabung dengan kondisinya, murid ini sudah merasa haus. Haus akan perhatian dan kasih sayang. Dia masuk ke dalam lingkungan yang baru, teman-teman baru, sendirian tanpa dukungan. Kemampuannya belum selancar teman yang lainnya dan dia tidak punya tempat untuk meminta bantuan. Ketika orang tuanya diberi tahu keterbatasan kemampuan baca-tulisnya, alih-alih membantu, orang tuanya mungkin malah memarahi dan memaksanya belajar dengan mendatangkan guru. Sebagai guru suatu kelas, memang tidak bisa perhatian kita terfokus pada satu murid, karena ada murid-murid yang lainnya yang mempunyai hak yang sama. Bagaimana kalau memberikannya aturan main khusus, yang lain dengan temannya? Bisa juga dengan mengajakknya berbicara empat mata, memberi tahu bahwa di sekolah dia diterima, tidak ada yang perlu ditakuti tetapi ada aturan yang harus ia penuhi. Ketika ia tidak sedang di kelas, bagaimana mengajak teman-temannya untuk bergantian membantunya, sehingga ia merasa diperhatikan oleh temannya?
Yang paling penting adalah membuatnya nyaman kembali di sekolah. Kayaknya tiap pagi dia juga pasti susah dibujuk untuk sekolah, karena dia ga tahu kenapa harus ke tempat dimana ngasih tambahan alasan orang tuanya untuk memarahi dia. Coba raih kembali kepercayaannya. Biarkan dia membuka diri. Mungkin  dia lebih nyaman berbicara dengan guru yang lainnya? Dekati guru tersebut dan ceritakan situasinya. Beri dia tanggung jawab lebih di kelas. Mungkin kalau dia suka dengan hewan, mintalah ia tiap hari untuk memberi makan kelinci peliharaan, sehingga dia punya satu alasan untuk pergi ke sekolah. So, my dear friend, please reach her because the others (her parents) won’t.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar