Kasus khusus nih :
“Aku punya murid kelas 1 nih, belum bisa baca dan menulis
masih sering salah tulis. Malah pernah nulis dari kanan. Dia di rumah lebih
banyak sendirian bersama pegawai ortunya. Ortunya sibuk sampai malam, jadi
tidak bisa mendampingi. Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun.
Nulis kadang mau, kadang gak. Harus dibujuk-bujuk untuk belajar baca. Lebih
suka bermain-main, lari-lari dan teriak-teriak. Ortunya meminta dengan sangat
ke aku untuk memberikan perhatian belajar lebih ke dia. 2 minggu kemarin,
ortunya datang, menemui kepsek untuk meminta pendampingan lebih. Lalu kepsek
minta aku dan guru pendamping untuk memberikan perhatian lebih ke murid ini,
sampai ortunya memberi ongkos untukpendampingan lebih. Padahal sekarang anaknya
sama sekali ga mau belajar. What should I do?”
Mari kita bahas bersama-sama, my friend :
·
“Dia di rumah lebih banyak sendirian… Ortunya sibuk
sampai malam…” Tipe anak jaman sekarang banget ya… Papa sibuk, mama arisan…
hehehe… sebagai guru kita memang tidak bisa menuntut ortu untuk mengubah ritme
kerja atau mengurangi kesibukan demi bersama anak. Karena jelas banyak ortu
yang bertindak sebagai customer, dan guru adalah penyedia jasa. Yang kita
lakukan adalah menerima keadaannya dan menciptakan suasana terbaik di sekolah
sehingga dia tidak merasa sama diacuhkannya di sekolah. Ciptakan keadaan yang
membuat dia merasa diterima. Sambut dia tiap pagi dengan senyum, tanyakan
bagaimana keadaannya hari ini, senangkah ia akan apa yang akan ia terima pagi
ini. Banyak menyentuhnya sebagai tanda sayang dan perhatian. Berikan pujian
setiap dia melakukan hal yang positif. Anjurkan dia dalam menetapkan sikapnya
seperti “Eh, kalau Ade mau belajar membaca, Ade jadi bisa bawa buku cerita itu
pulang untuk dibacakan ke mama.” Dengarkan setiap keluh kesahnya.
·
“Ortunya datang, menemui kepsek… memberi ongkos
untukpendampingan lebih…” Terbukti kan dugaanku. Ini dia yang bertindak sebagai
customer sejati. “Aku bayar berapa aja deh, asal anakku bisa pintar, gak
ketinggalan, gak ngerepotin” Masalahnya, para orang tua, kepintaran dan
keberhasilan anak itu bukan sesuatu yang instan dan bisa terwujud dengan tambahan
beberapa ratus ribu rupiah atau beberapa juta. Bukan seperti proses produksi
yang ketika macet, dilihat permasalahannya, panggil mekanik, beli alat-alat,
bayar mekaniknya, kalau perlu sampai lembur, pokoknya besok harus sudah gerak
lagi. Anak bukan hanya butuh fasilitas, tetapi butuh perhatian, kasih sayang, dan
dukungan. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan adalah memberi senyuman terlebar
ketika anak bangun tidur, menanyakan apakah ia senang di sekolah ketika pulang
dari sekolah (bukan “tadi belajar apa saja? Ulanganmu dapat berapa?”), member pelukan
dan kecupan sesering mungkin. Kira-kira bisa ga kita sebagai guru meminta ortu
untuk melakukan hal-hal kecil namun berarti ini?
·
“Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat
menurun…. Harus dibujuk-bujuk… sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar”
Kalau dilihat dan digabung dengan kondisinya, murid ini sudah merasa haus. Haus
akan perhatian dan kasih sayang. Dia masuk ke dalam lingkungan yang baru,
teman-teman baru, sendirian tanpa dukungan. Kemampuannya belum selancar teman
yang lainnya dan dia tidak punya tempat untuk meminta bantuan. Ketika orang
tuanya diberi tahu keterbatasan kemampuan baca-tulisnya, alih-alih membantu,
orang tuanya mungkin malah memarahi dan memaksanya belajar dengan mendatangkan
guru. Sebagai guru suatu kelas, memang tidak bisa perhatian kita terfokus pada
satu murid, karena ada murid-murid yang lainnya yang mempunyai hak yang sama. Bagaimana
kalau memberikannya aturan main khusus, yang lain dengan temannya? Bisa juga
dengan mengajakknya berbicara empat mata, memberi tahu bahwa di sekolah dia
diterima, tidak ada yang perlu ditakuti tetapi ada aturan yang harus ia penuhi.
Ketika ia tidak sedang di kelas, bagaimana mengajak teman-temannya untuk
bergantian membantunya, sehingga ia merasa diperhatikan oleh temannya?
Yang paling penting adalah membuatnya nyaman kembali di
sekolah. Kayaknya tiap pagi dia juga pasti susah dibujuk untuk sekolah, karena
dia ga tahu kenapa harus ke tempat dimana ngasih tambahan alasan orang tuanya
untuk memarahi dia. Coba raih kembali kepercayaannya. Biarkan dia membuka diri.
Mungkin dia lebih nyaman berbicara
dengan guru yang lainnya? Dekati guru tersebut dan ceritakan situasinya. Beri
dia tanggung jawab lebih di kelas. Mungkin kalau dia suka dengan hewan,
mintalah ia tiap hari untuk memberi makan kelinci peliharaan, sehingga dia
punya satu alasan untuk pergi ke sekolah. So, my dear friend, please reach her
because the others (her parents) won’t.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar