What We Do

What We Do

Jumat, 12 Oktober 2012

Penantian Yang Semoga Takkan Lama (*Fingers Crossed*)

Setelah selama seminggu mempersiapkan si Kakak menghadapi UTS pertamanya, satu yang terus menerus kuteriakkan dalam hati seperti chanting dalam hati... IT'S TOO MUCH!!!!!

12 ujian dalam seminggu dengan materi yang dulu mungkin kita baru nemuin di kelas 3 atau 4, what do you want our kids to learn, wahai si pembuat kurikulum??

Anak umur 6 tahun sudah dicekoki dengan kata-kata canggih bin ajaib seperti identitas, peristiwa, informasi, ketetapan, dan macam-macam lainnya. Untuk membacanya saja, terkadang si Kakak harus mengulang.

Akhirnya, yang Bundamu ini bisa lakukan cuma memberitahumu, "Ini lho nak, kalo pertanyaannya ini, jawabannya ini." Dan Bunda mengerti kamu belum paham seutuhnya, Bunda tahu masih ada pertanyaan di hatimu. Tapi kita harus sampai halaman sekian-sekian-sekian dan belajar tentang bla-bla-bla sebelum besok ujian.
Contoh pertanyaan kelas satu :
  •  Apa fungsi identitas diri?
  • Teknologi adalah ....
  • Peristiwa yang sudah pernah terjadi disebut ...
Saya betul-betul merindukan ketika kita tidak perlu memeras otak untuk mengerjakan soal anak kelas 1 SD.

Coba ambil contoh, teman-temanku, Pendidikan Agama Islam, disuruh ngapalin Rukun Iman yang ada 6. Gak habis akal, saya buat jadi lagu yang pake nada "Nama-nama Hari",
Rukun Iman, Ada Enam
Satu Allah, Dua Malaikat
Tiga Kitab, Empat Rasul
Lima Kiamat, Enam Takdir
Dan berhasil dong si Kakak mengingatnya. Tetapi oh tetapi ketika ditanya, "Apa sih iman itu, kak?" Menurut buku teks, iman itu percaya..... Dan seperti 6 tahun pada umumnya, dia pun bertanya balik, "Percaya itu apa, nda?"
Dan saya pun membawanya ke pangkuan saya ,"Kakak pernah ngerasain angin gak?". Ia mengangguk.
"Rasanya gimana?", mukanya sedikit bingung, "Ya kerasa aja Bunda."
"Kelihatan ga anginnya?", dengan muka polosnya, "Nggak."
"Nah, percaya atau iman juga seperti angin itu. Allah itu ada, Allah itu dekat, tetapi tidak terlihat, dan Kakak bisa merasakannya." Mulutnya pun membulat seperti huruf 'o'
Dalam hati, "Anakku, anakku, kalau saja materimu tidak sebanyak ini, pasti gurumu bisa memberimu pelajaran yang lebih mendalam, menjawab semua pertanyaanmu, dan bukan hanya pernyataan-pernyataan kosong yang harus kamu hafalkan begitu saja."

Jadi, buat pejuang-pejuang pendidikan di luar sana, terutama yang berada di garis depan, marilah kita perjuangkan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan perkembangan dan umur anak. Ada wacana kalau subjek SD mau dikepras menjadi setengahnya, I'm with you, SELAMA sedikitnya mata pelajaran bukan berarti bertambahnya materi, apa yang diajarkan memang sesuai dengan kemampuan general usianya (bukan sesuatu yang terlalu abstrak), dan tidak menjadi ruang untuk pihak sekolah menambahkan muatan-muatan 'internasional' yang sering masih meragukan............

Jumat, 05 Oktober 2012

Yuk, jadi guru cilik!!

Bosan mengulang materi yg sama karena murid2 ada yg blum mengerti? Kdg2 jadi hal yg dilematis ya. Yg pintar sudah lancar dan malas diberi soal mudah. Yg lain masih harus dibimbing mengerjakannya. Pusiing!


Disaat spt ini,sy suka memberi kuasa pd murid menjadi guru. Don't you know, students love playing pretend,especially as teachers. So, sy kumpulkan murid2 yg sudah lebih mengerti sampai kira2 1/4 jumlah siswa kelas.


Mereka sy tantang, bisa ga bikin teman2nya mengerti materi dalam waktu,misal, 30 menit. Setelah itu sy pilih murid2 yg kira2 sesuai dgn karakter gurunya. Untuk guru yg sabar misalnya diberi murid yg perlu bimbingan lbh. Setelah smua mendapat kelompok belajarnya,sy menyarankan mereka untuk mencari tempat yg berbeda supaya bisa lebih berkonsentrasi.


Ternyata yg dinamakan 'peer teaching' tuh tidak cuma berlaku buat guru ya? Suasana menjadi seru sekali. Ada yang kalem ternyata setelah menjadi guru,tegas dan agak killer. Ada juga yang bisa menjelaskan lebih pandai dari gurunya. Kita jadi tahu, oh ternyata terkadang penjelasan teman tuh lebih mengena daripada dari gurunya. Jangan lupa,guru asli harus tetap berkeliling untuk sigap membantu kesulitan guru2 kecil ini.


Oya, sebelum mereka mulai, saya memberi tahu bahwa seyelah waktu belajar mengajar selesai akan ada tes dan guru yang muridnya mendapat nilai tertinggi secara kumulatif akan mendapat reward. Jadi mereka lebih bersemangat dalam membuat temannya mengerti.


Nah, setelah semua seluruh rangkaian kegiatan selesai, dan masih ada sisa waktu, saya meminta mereka yang tadi menjadi murid untuk menuliskan ucapan terima kasih pada 'gurunya' dan ditambah dengan 'kamu berbakat menjadi guru karena...'


Ucapan ini langsung diserahkan dan di akhir pelajaran saya meminta semua 'guru kecil' untuk berdiri dan kita memberi tepuk tangan yang meriah buat mereka. Sungguh di raut wajah guru-guru baru ini tergambar betbagai emosi, dari yang senang, bangga, merasa dihargai, dan timbul percaya diri. Nah, temanku ternyata menyerahkan timpuk kekuasaan kelas bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,bukan??


Selasa, 02 Oktober 2012

Mengajari anak membaca

Banyak yang menebak-nebak usia berapa seharusnya anak belajar membaca? Ada yg menyerahkan pada sekolah dan mengikuti arusnya.



Saya, sbg orang yg kurang lbh nerd, amat mementingkan hal ini. Bagi saya begitu anak bisa membaca sama seperti ia pertama kali bisa melihat. Begitu banyak yang dia bisa tahu dan dapat, dan tidak cuma dari sekelilingnya sja.



Di Indonesia, keterampilan membaca dimulai dengan mengeja. Saya aga tidak setuju dgn hal ini. Bagaimana seorang anak umur 3 / 4 tahun mengerti bahwa 'be' dan 'a' jadi 'ba', kenapa ga jadi 'bea'? Nah, jadilah saya mengajarkan anak saya langsung per suku kata. Tidak per huruf.



Anak pertama saya mulai sekitar umur 3 tahun, ketika dia mogok dari sekolahnya di playgroup. Saya menggunakan salah satu buku yang lgsg memperkenalkan per suku kata. Bukunya bernama abacaga. Bentuk2 tulisan di halamannya spt di bwah ini




Ternyata cukp berhasil dan di tengah tk A dia sudah cukup lancar membaca. Sy sempat berpikir apa minat membacanya terpupuk karena waktu bayi saya rajin memperlihatkan kartu2 nama benda seperti yg dianjurkan glenn doman?


Dugaan ini sedikit dikuatkan ketika adiknya, yg tidak dilatih dgn kartu glenn doman, memiliki minat membaca lebih rendah.



Sy mulai dgn buku yg sama disaat adek berumur 3.5 thn dan sampai 4 thn blum bs mendapatkan konsep membacanya. Dia hanya meniru apa yg saya ucapkan tetapi blum bisa mandiri dlm membaca.



Ketika kakaknya masuk ke sd islam, dia diajarkan mengaji dgn metode ummi. Maka, sy mengadaptasinya untuk adek belajar membaca. Hasilnya menjadi lembaran spt di bwh ini.




Membacanya lebih percaya diri tetapi.masih kesulitan mengerti kalau 'ba' dibaca ba, bukan ba dan a. Jadi adek blum bisa mengerti ttg suku kata. Lalu, sy melihat klo dia sgt suka mewarna dan menggambar. Jadi, knp tidak memisahkan per suku kata dengan spidol warna-warni?




Pertama kali dia melihat lembaran yg baru ini, matanya sudah berbinar. Ok, kt hati sy, i'm on the right track. Dan kita coba membacanya. Hasilnya? ???



SUPER!!! Sy hanya perlu memberi tahu suku kata yg baru (dii hal. ini adalah ca) dan dia bisa melanjutkan membaca sampai kata gabungan terakhir. Selesai membaca, seperti biasa saya memeluk dan menciumnya, tapi kali ini senyumnya merekah sangat lebar karena tahu dia sudah berhasil.