12 ujian dalam seminggu dengan materi yang dulu mungkin kita baru nemuin di kelas 3 atau 4, what do you want our kids to learn, wahai si pembuat kurikulum??
Anak umur 6 tahun sudah dicekoki dengan kata-kata canggih bin ajaib seperti identitas, peristiwa, informasi, ketetapan, dan macam-macam lainnya. Untuk membacanya saja, terkadang si Kakak harus mengulang.
Akhirnya, yang Bundamu ini bisa lakukan cuma memberitahumu, "Ini lho nak, kalo pertanyaannya ini, jawabannya ini." Dan Bunda mengerti kamu belum paham seutuhnya, Bunda tahu masih ada pertanyaan di hatimu. Tapi kita harus sampai halaman sekian-sekian-sekian dan belajar tentang bla-bla-bla sebelum besok ujian.
Contoh pertanyaan kelas satu :
- Apa fungsi identitas diri?
- Teknologi adalah ....
- Peristiwa yang sudah pernah terjadi disebut ...
Coba ambil contoh, teman-temanku, Pendidikan Agama Islam, disuruh ngapalin Rukun Iman yang ada 6. Gak habis akal, saya buat jadi lagu yang pake nada "Nama-nama Hari",
Rukun Iman, Ada Enam
Satu Allah, Dua Malaikat
Tiga Kitab, Empat Rasul
Lima Kiamat, Enam Takdir
Dan berhasil dong si Kakak mengingatnya. Tetapi oh tetapi ketika ditanya, "Apa sih iman itu, kak?" Menurut buku teks, iman itu percaya..... Dan seperti 6 tahun pada umumnya, dia pun bertanya balik, "Percaya itu apa, nda?"
Dan saya pun membawanya ke pangkuan saya ,"Kakak pernah ngerasain angin gak?". Ia mengangguk.
"Rasanya gimana?", mukanya sedikit bingung, "Ya kerasa aja Bunda."
"Kelihatan ga anginnya?", dengan muka polosnya, "Nggak."
"Nah, percaya atau iman juga seperti angin itu. Allah itu ada, Allah itu dekat, tetapi tidak terlihat, dan Kakak bisa merasakannya." Mulutnya pun membulat seperti huruf 'o'
Dalam hati, "Anakku, anakku, kalau saja materimu tidak sebanyak ini, pasti gurumu bisa memberimu pelajaran yang lebih mendalam, menjawab semua pertanyaanmu, dan bukan hanya pernyataan-pernyataan kosong yang harus kamu hafalkan begitu saja."
Jadi, buat pejuang-pejuang pendidikan di luar sana, terutama yang berada di garis depan, marilah kita perjuangkan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan perkembangan dan umur anak. Ada wacana kalau subjek SD mau dikepras menjadi setengahnya, I'm with you, SELAMA sedikitnya mata pelajaran bukan berarti bertambahnya materi, apa yang diajarkan memang sesuai dengan kemampuan general usianya (bukan sesuatu yang terlalu abstrak), dan tidak menjadi ruang untuk pihak sekolah menambahkan muatan-muatan 'internasional' yang sering masih meragukan............

