What We Do

What We Do

Jumat, 12 Oktober 2012

Penantian Yang Semoga Takkan Lama (*Fingers Crossed*)

Setelah selama seminggu mempersiapkan si Kakak menghadapi UTS pertamanya, satu yang terus menerus kuteriakkan dalam hati seperti chanting dalam hati... IT'S TOO MUCH!!!!!

12 ujian dalam seminggu dengan materi yang dulu mungkin kita baru nemuin di kelas 3 atau 4, what do you want our kids to learn, wahai si pembuat kurikulum??

Anak umur 6 tahun sudah dicekoki dengan kata-kata canggih bin ajaib seperti identitas, peristiwa, informasi, ketetapan, dan macam-macam lainnya. Untuk membacanya saja, terkadang si Kakak harus mengulang.

Akhirnya, yang Bundamu ini bisa lakukan cuma memberitahumu, "Ini lho nak, kalo pertanyaannya ini, jawabannya ini." Dan Bunda mengerti kamu belum paham seutuhnya, Bunda tahu masih ada pertanyaan di hatimu. Tapi kita harus sampai halaman sekian-sekian-sekian dan belajar tentang bla-bla-bla sebelum besok ujian.
Contoh pertanyaan kelas satu :
  •  Apa fungsi identitas diri?
  • Teknologi adalah ....
  • Peristiwa yang sudah pernah terjadi disebut ...
Saya betul-betul merindukan ketika kita tidak perlu memeras otak untuk mengerjakan soal anak kelas 1 SD.

Coba ambil contoh, teman-temanku, Pendidikan Agama Islam, disuruh ngapalin Rukun Iman yang ada 6. Gak habis akal, saya buat jadi lagu yang pake nada "Nama-nama Hari",
Rukun Iman, Ada Enam
Satu Allah, Dua Malaikat
Tiga Kitab, Empat Rasul
Lima Kiamat, Enam Takdir
Dan berhasil dong si Kakak mengingatnya. Tetapi oh tetapi ketika ditanya, "Apa sih iman itu, kak?" Menurut buku teks, iman itu percaya..... Dan seperti 6 tahun pada umumnya, dia pun bertanya balik, "Percaya itu apa, nda?"
Dan saya pun membawanya ke pangkuan saya ,"Kakak pernah ngerasain angin gak?". Ia mengangguk.
"Rasanya gimana?", mukanya sedikit bingung, "Ya kerasa aja Bunda."
"Kelihatan ga anginnya?", dengan muka polosnya, "Nggak."
"Nah, percaya atau iman juga seperti angin itu. Allah itu ada, Allah itu dekat, tetapi tidak terlihat, dan Kakak bisa merasakannya." Mulutnya pun membulat seperti huruf 'o'
Dalam hati, "Anakku, anakku, kalau saja materimu tidak sebanyak ini, pasti gurumu bisa memberimu pelajaran yang lebih mendalam, menjawab semua pertanyaanmu, dan bukan hanya pernyataan-pernyataan kosong yang harus kamu hafalkan begitu saja."

Jadi, buat pejuang-pejuang pendidikan di luar sana, terutama yang berada di garis depan, marilah kita perjuangkan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan perkembangan dan umur anak. Ada wacana kalau subjek SD mau dikepras menjadi setengahnya, I'm with you, SELAMA sedikitnya mata pelajaran bukan berarti bertambahnya materi, apa yang diajarkan memang sesuai dengan kemampuan general usianya (bukan sesuatu yang terlalu abstrak), dan tidak menjadi ruang untuk pihak sekolah menambahkan muatan-muatan 'internasional' yang sering masih meragukan............

Jumat, 05 Oktober 2012

Yuk, jadi guru cilik!!

Bosan mengulang materi yg sama karena murid2 ada yg blum mengerti? Kdg2 jadi hal yg dilematis ya. Yg pintar sudah lancar dan malas diberi soal mudah. Yg lain masih harus dibimbing mengerjakannya. Pusiing!


Disaat spt ini,sy suka memberi kuasa pd murid menjadi guru. Don't you know, students love playing pretend,especially as teachers. So, sy kumpulkan murid2 yg sudah lebih mengerti sampai kira2 1/4 jumlah siswa kelas.


Mereka sy tantang, bisa ga bikin teman2nya mengerti materi dalam waktu,misal, 30 menit. Setelah itu sy pilih murid2 yg kira2 sesuai dgn karakter gurunya. Untuk guru yg sabar misalnya diberi murid yg perlu bimbingan lbh. Setelah smua mendapat kelompok belajarnya,sy menyarankan mereka untuk mencari tempat yg berbeda supaya bisa lebih berkonsentrasi.


Ternyata yg dinamakan 'peer teaching' tuh tidak cuma berlaku buat guru ya? Suasana menjadi seru sekali. Ada yang kalem ternyata setelah menjadi guru,tegas dan agak killer. Ada juga yang bisa menjelaskan lebih pandai dari gurunya. Kita jadi tahu, oh ternyata terkadang penjelasan teman tuh lebih mengena daripada dari gurunya. Jangan lupa,guru asli harus tetap berkeliling untuk sigap membantu kesulitan guru2 kecil ini.


Oya, sebelum mereka mulai, saya memberi tahu bahwa seyelah waktu belajar mengajar selesai akan ada tes dan guru yang muridnya mendapat nilai tertinggi secara kumulatif akan mendapat reward. Jadi mereka lebih bersemangat dalam membuat temannya mengerti.


Nah, setelah semua seluruh rangkaian kegiatan selesai, dan masih ada sisa waktu, saya meminta mereka yang tadi menjadi murid untuk menuliskan ucapan terima kasih pada 'gurunya' dan ditambah dengan 'kamu berbakat menjadi guru karena...'


Ucapan ini langsung diserahkan dan di akhir pelajaran saya meminta semua 'guru kecil' untuk berdiri dan kita memberi tepuk tangan yang meriah buat mereka. Sungguh di raut wajah guru-guru baru ini tergambar betbagai emosi, dari yang senang, bangga, merasa dihargai, dan timbul percaya diri. Nah, temanku ternyata menyerahkan timpuk kekuasaan kelas bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,bukan??


Selasa, 02 Oktober 2012

Mengajari anak membaca

Banyak yang menebak-nebak usia berapa seharusnya anak belajar membaca? Ada yg menyerahkan pada sekolah dan mengikuti arusnya.



Saya, sbg orang yg kurang lbh nerd, amat mementingkan hal ini. Bagi saya begitu anak bisa membaca sama seperti ia pertama kali bisa melihat. Begitu banyak yang dia bisa tahu dan dapat, dan tidak cuma dari sekelilingnya sja.



Di Indonesia, keterampilan membaca dimulai dengan mengeja. Saya aga tidak setuju dgn hal ini. Bagaimana seorang anak umur 3 / 4 tahun mengerti bahwa 'be' dan 'a' jadi 'ba', kenapa ga jadi 'bea'? Nah, jadilah saya mengajarkan anak saya langsung per suku kata. Tidak per huruf.



Anak pertama saya mulai sekitar umur 3 tahun, ketika dia mogok dari sekolahnya di playgroup. Saya menggunakan salah satu buku yang lgsg memperkenalkan per suku kata. Bukunya bernama abacaga. Bentuk2 tulisan di halamannya spt di bwah ini




Ternyata cukp berhasil dan di tengah tk A dia sudah cukup lancar membaca. Sy sempat berpikir apa minat membacanya terpupuk karena waktu bayi saya rajin memperlihatkan kartu2 nama benda seperti yg dianjurkan glenn doman?


Dugaan ini sedikit dikuatkan ketika adiknya, yg tidak dilatih dgn kartu glenn doman, memiliki minat membaca lebih rendah.



Sy mulai dgn buku yg sama disaat adek berumur 3.5 thn dan sampai 4 thn blum bs mendapatkan konsep membacanya. Dia hanya meniru apa yg saya ucapkan tetapi blum bisa mandiri dlm membaca.



Ketika kakaknya masuk ke sd islam, dia diajarkan mengaji dgn metode ummi. Maka, sy mengadaptasinya untuk adek belajar membaca. Hasilnya menjadi lembaran spt di bwh ini.




Membacanya lebih percaya diri tetapi.masih kesulitan mengerti kalau 'ba' dibaca ba, bukan ba dan a. Jadi adek blum bisa mengerti ttg suku kata. Lalu, sy melihat klo dia sgt suka mewarna dan menggambar. Jadi, knp tidak memisahkan per suku kata dengan spidol warna-warni?




Pertama kali dia melihat lembaran yg baru ini, matanya sudah berbinar. Ok, kt hati sy, i'm on the right track. Dan kita coba membacanya. Hasilnya? ???



SUPER!!! Sy hanya perlu memberi tahu suku kata yg baru (dii hal. ini adalah ca) dan dia bisa melanjutkan membaca sampai kata gabungan terakhir. Selesai membaca, seperti biasa saya memeluk dan menciumnya, tapi kali ini senyumnya merekah sangat lebar karena tahu dia sudah berhasil.





Minggu, 30 September 2012

Don't Take Your Children's Love For Granted!

Pernah dengar namanya unconditional love?
Katanya itulah jenis cinta yang diberikan seorang ortu dengan anaknya dan anak dengan ortunya.

OK, untuk cinta ortu dengan anaknya sudah pasti. Kecuali kasus-kasus tertentu, setiap orang tua selalu ingin agar anaknya tumbuh sehat, pintar, selamat, dll. dengan memberikan segala yang terbaik sejauh apa yang mereka bisa. Dalam kenyataannya, banyak yang salah kaprah. Orang tua bekerja sangat keras, membanting tulang, memeras keringat, dari pagi sampai malam, untuk memberikan fasilitas yang terbaik bagi anaknya. Sekolah yang biayanya pake dollar, guru privat lulusan perguruan tinggi ternama, les ini-itu di tempat-tempat bergengsi, menyediakan uang saku diluar kewajaran.

Sedangkan si anak hanya bertemu sekali-dua kali dalam sehari, itupun tidak lebih dari 10 menit. Bagaimana dia bisa percaya dengan unconditional love? apalagi memberikannya untuk orang yang jarang ia temui.

Pernah memperhatikan bayi menangis? Dia menangis sekeras-kerasnya, sekuat-kuatnya, sampai mukanya memerah, untuk apa? menarik perhatian. Karena ia belajar dari pengalaman kalau ia menangis semakin keras, perhatian yang ia dapat semakin banyak.

Nah, apa bedanya dengan kenakalan remaja yang marak sekarang ini? sex bebas, tawuran sampai meregang nyawa, narkoba, dan banyak lagi. Itu adalah bentuk lain tangisannya. Ia belajar ketika ia berbuat nakal, orang tuanya meluangkan waktu lebih lama, walau hanya memarahinya. Ia merasakan sedikit perhatian lebih dari orang tuanya. Ia tahu jalan pintas untuk meraih orang tuanya.

Teman-temanku haruskah kita menunggu sampai hal itu terjadi? Saya teringat ketika melihat video dari Sir Ken Robinson tentang pendidikan. Di akhir video itu, ia mengutip satu puisi tentang seseorang yang ingin memberikan segala harta benda berkilau di bawah kaki orang yang dicintainya, tetapi ia hanya punya mimpinya, di puisi itu ia berkata ,"aku cuma punya mimpi, yang kutaruh di bawah kedua kakimu, maka jalinlah dengan lembut."Lalu ia melanjutkan bahwa setiap hari, setiap waktu anak-anak menempatkan mimpi-mimpinya di bawah kaki kita, maka jalinlah dengan lembut mimpi-mimpi itu. I was on tears when he said that.

Anak-anak pada mulanya memang menyerahkan segala cinta yang ia punya pada orang tuanya, karena kepercayaan mereka mutlak. "Ini orang yang membawaku ke dunia ini, yang kulihat ketika membuka mata, yang wajahnya selalu memancarkan kebanggaan dan cinta padaku".

Namun, apa yang terjadi ketika kepercayaan itu memudar? Ketika hari-harinya diisi dengan waktu bermain bersama pengasuhnya, ketika ia menunjukkan hasil karyanya yang acak-acakan dengan bangga pada mamanya yang tidak memperlihatkan respon positif karena sudah kecapaian bekerja, apalagi ketika waktu bersekolah sudah mulai. Maka, ia menjalin kepercayaan itu dengan orang-orang yang sekiranya mencintainya, memberikan perhatian lebih padanya.

Jadi, temanku, janganlah percaya bahwa sebagaimanapun orang tua, anak akan selalu mencintainya. Don't take your children's love for granted. You have to make effort for it. Harus berusaha, harus diraih, dipelihara, dan dikembangkan. Berikan senyuman paling lebar ketika ia bangun tidur, bersikaplah atentif pada kegiatannya, bagikan kegiatanmu dengan bahasa yang sederhana padanya, usaplah kepalanya dan peluklah. Lambat laun, mimpi-mimpi itu akan mulai terjalin lagi di bawah kakimu, dan kau tahu kali ini ajan menjalinnya dengan lembut.

Attention Craving Kid


Kasus khusus nih :
“Aku punya murid kelas 1 nih, belum bisa baca dan menulis masih sering salah tulis. Malah pernah nulis dari kanan. Dia di rumah lebih banyak sendirian bersama pegawai ortunya. Ortunya sibuk sampai malam, jadi tidak bisa mendampingi. Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun. Nulis kadang mau, kadang gak. Harus dibujuk-bujuk untuk belajar baca. Lebih suka bermain-main, lari-lari dan teriak-teriak. Ortunya meminta dengan sangat ke aku untuk memberikan perhatian belajar lebih ke dia. 2 minggu kemarin, ortunya datang, menemui kepsek untuk meminta pendampingan lebih. Lalu kepsek minta aku dan guru pendamping untuk memberikan perhatian lebih ke murid ini, sampai ortunya memberi ongkos untukpendampingan lebih. Padahal sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar. What should I do?”
Mari kita bahas bersama-sama, my friend :
·         “Dia di rumah lebih banyak sendirian… Ortunya sibuk sampai malam…” Tipe anak jaman sekarang banget ya… Papa sibuk, mama arisan… hehehe… sebagai guru kita memang tidak bisa menuntut ortu untuk mengubah ritme kerja atau mengurangi kesibukan demi bersama anak. Karena jelas banyak ortu yang bertindak sebagai customer, dan guru adalah penyedia jasa. Yang kita lakukan adalah menerima keadaannya dan menciptakan suasana terbaik di sekolah sehingga dia tidak merasa sama diacuhkannya di sekolah. Ciptakan keadaan yang membuat dia merasa diterima. Sambut dia tiap pagi dengan senyum, tanyakan bagaimana keadaannya hari ini, senangkah ia akan apa yang akan ia terima pagi ini. Banyak menyentuhnya sebagai tanda sayang dan perhatian. Berikan pujian setiap dia melakukan hal yang positif. Anjurkan dia dalam menetapkan sikapnya seperti “Eh, kalau Ade mau belajar membaca, Ade jadi bisa bawa buku cerita itu pulang untuk dibacakan ke mama.” Dengarkan setiap keluh kesahnya.
·         “Ortunya datang, menemui kepsek… memberi ongkos untukpendampingan lebih…” Terbukti kan dugaanku. Ini dia yang bertindak sebagai customer sejati. “Aku bayar berapa aja deh, asal anakku bisa pintar, gak ketinggalan, gak ngerepotin” Masalahnya, para orang tua, kepintaran dan keberhasilan anak itu bukan sesuatu yang instan dan bisa terwujud dengan tambahan beberapa ratus ribu rupiah atau beberapa juta. Bukan seperti proses produksi yang ketika macet, dilihat permasalahannya, panggil mekanik, beli alat-alat, bayar mekaniknya, kalau perlu sampai lembur, pokoknya besok harus sudah gerak lagi. Anak bukan hanya butuh fasilitas, tetapi butuh perhatian, kasih sayang, dan dukungan. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan adalah memberi senyuman terlebar ketika anak bangun tidur, menanyakan apakah ia senang di sekolah ketika pulang dari sekolah (bukan “tadi belajar apa saja? Ulanganmu dapat berapa?”), member pelukan dan kecupan sesering mungkin. Kira-kira bisa ga kita sebagai guru meminta ortu untuk melakukan hal-hal kecil namun berarti ini?
·         “Sekarang kemauan belajarnya di kelas sangat menurun…. Harus dibujuk-bujuk… sekarang anaknya sama sekali ga mau belajar” Kalau dilihat dan digabung dengan kondisinya, murid ini sudah merasa haus. Haus akan perhatian dan kasih sayang. Dia masuk ke dalam lingkungan yang baru, teman-teman baru, sendirian tanpa dukungan. Kemampuannya belum selancar teman yang lainnya dan dia tidak punya tempat untuk meminta bantuan. Ketika orang tuanya diberi tahu keterbatasan kemampuan baca-tulisnya, alih-alih membantu, orang tuanya mungkin malah memarahi dan memaksanya belajar dengan mendatangkan guru. Sebagai guru suatu kelas, memang tidak bisa perhatian kita terfokus pada satu murid, karena ada murid-murid yang lainnya yang mempunyai hak yang sama. Bagaimana kalau memberikannya aturan main khusus, yang lain dengan temannya? Bisa juga dengan mengajakknya berbicara empat mata, memberi tahu bahwa di sekolah dia diterima, tidak ada yang perlu ditakuti tetapi ada aturan yang harus ia penuhi. Ketika ia tidak sedang di kelas, bagaimana mengajak teman-temannya untuk bergantian membantunya, sehingga ia merasa diperhatikan oleh temannya?
Yang paling penting adalah membuatnya nyaman kembali di sekolah. Kayaknya tiap pagi dia juga pasti susah dibujuk untuk sekolah, karena dia ga tahu kenapa harus ke tempat dimana ngasih tambahan alasan orang tuanya untuk memarahi dia. Coba raih kembali kepercayaannya. Biarkan dia membuka diri. Mungkin  dia lebih nyaman berbicara dengan guru yang lainnya? Dekati guru tersebut dan ceritakan situasinya. Beri dia tanggung jawab lebih di kelas. Mungkin kalau dia suka dengan hewan, mintalah ia tiap hari untuk memberi makan kelinci peliharaan, sehingga dia punya satu alasan untuk pergi ke sekolah. So, my dear friend, please reach her because the others (her parents) won’t.

Membaca, Bagi anak Kelas 1


Anak saya, A, baru duduk di kelas 1. Untungnya saya bisa memasukkannya ke sekolah dengan kelas kecil. Saat ini dia sedang sering ulangan, terkadang hingga 2 ulangan dalam satu hari. Jika saya menyanyakan apa yang baru kami baca bersama atau apa yang baru saja ia baca dengan keras, A bingung mencari jawabannya.
Tahukah Anda saudara2, bagi anak seusianya, membaca suatu kalimat, paragraph, atau satu bahasan adalah pencapaian yang sangat hebat. Namun, pemahamannya belum secepat kemampuan membacanya. Gini ajalah, pernah lihat anak kelas 1 terbahak-bahak melihat satu komik strip yang minim kata-kata? Tidak bukan? Karena mereka perlu waktu memahami gambar, apalagi satu halaman penuh kata2!
Anak saya senang membeli buku komik bergambar seperti “Smurf”, “Tin-tin”, dan kawan-kawannya. Dia menghabiskan waktu yang lama untuk pindah ke halaman selanjutnya, walau saya tahu kecepatan membacanya.  Prosesnya, dia membaca, dia melihat gambar, menemukan korelasi gambar dan katanya, membaca lagi, menebak-nebak maksudnya, membaca lagi, melihat gambarnya lagi, dan baru dia tertawa.
Bagaimana membuat anak mengerti apa yang dia baca? Bisa dengan :
1.       Menimbulkan keingintahuannya dulu sebelum memintanya membaca. Seperti sebelum membahas sains tentang anggota tubuh, guru membuat peran bagaimana rasanya bila mereka tidak memiliki satu anggota tubuh, seperti menutup mata murid, menyumbat mulutnya, dan sebagainya.
2.       Membaca secara bergantian dan menjelaskan setiap akan berganti ke murid lain. Bisa juga ketika akan berganti, meminta teman yang lain untuk menceritakan apa maksud bacaan yang baru didengarnya.
3.       Memintanya menceritakan kembali apa maksud bacaan tadi. Guru atau pendamping bisa membantunya menyusun kata-kata, seperti “Jadi, maksudnya tadi kalau kamu ingin mata kamu tetap sehat, kamu harus apa ya?”
4.       Membuat peta pikiran (mind map) tentang bacaan. Ini hal yang sangat berguna sebagai ringkasan. Karena lebih gamblang dan tidak banyak cing-cong.
5.       Membuat bersama daftar kata-kata penting yang mewakili bacaan tadi dan bersama-sama menceritakan kembali.
6.       Memberi contoh yang jelas, seperti sebelum murid mengerjakan tes, berilah contoh bagaimana menjawab soal-soalnya. Untuk pilihan ganda bisa diberi contoh seperti : Kalau akan sekolah, aku memakai …. a. piyama   b. seragam   c. baju renang. Tanyakan mana yang benar, dan tunjukkan bagaimana menyilang hurufnya.

Kelas 1 Baru, New School, Whole New Experience


Saya selalu salut dengan guru kelas 1, karena mereka memegang beban terberat dibanding guru yang di kelas-kelas selanjutnya. Banyak sekali yang harus mereka ajarkan pada muridnya. Tetapi menurut saya yang terpenting adalah adaptasi dan pembiasaan. Murid-murid yang baru keluar dari TK yang penuh keceriaan dan main-main dihadapkan pada situasi dan aturan yang berbeda.
Bayangkan ketika tiba-tiba Anda ditugaskan ke negeri antah berantah yang segalanya sama sekali berbeda dari Indonesia dan Anda diminta berangkat sesegera mungkin. Begitu pesawat mendarat, telpon Anda berbunyi dari kantor tempat Anda bekerja, meminta Anda untuk langsung mengisi posisi. Dengan bahasa yang asing, budaya yang baru, dan teman kerja yang tidak Anda kenal, bayangkan betapa susahnya keadaan ini. Dan bayangkan hal itu terjadi pada anak umur 6 tahun!!!!
A good friend of mine, a very experienced first grade teacher said : satu bulan pertama adalah masa penting untuk membentuk suasana kelas satu tahun ke depan. Bulan pertama di sekolah bukanlah harus dijejali oleh pelajaran-pelajaran yang mereka sendiri tidak pernah bertemu sebelumnya (‘apa itu IPS?’ ‘apa bedanya sama IPA?’). Akan sangat menyenangkan baik bagi murid maupun gurunya jika dalam satu bulan diisi dengan perkenalan dan adaptasi. Hey, anak ini akan menghabiskan paling tidak 6 tahun di sekolah yang sama. Apa ‘membosankan’ ‘melelahkan’ dan ‘membingungkan’ merupakan kesan pertama yang bagus?? No way, man!
Satu bulan pertama bisa diisi dengan:
·         mendekatkan murid dengan gurunya, dengan teman-temannya, dan dengan lingkungan sekolahnya. Wali kelas mutlak wajib kudu mendapatkan kepercayaan penuh dari seluruh murid di kelasnya. Dan kepercayaan ini tidak dapat diminta begitu saja, tetapi murid akan memberika secara sukarela ketika dia melihat sosok wali muridnya ternyata adalah sosok yang percaya pada kemampuannya, yang ingin melihatnya berkembang, pihak yang bisa dia ajak bicara.
·         Memberi kebebasan mereka untuk bercerita tentang keluarga, kegiatan liburannya, atau kegiatan yang disenanginya. Kalau mereka diberi ruangan untuk berekspresi, mereka akan merasa diterima sebagai individu yang unik.
·         Memperkenalkan aturan-aturan yang terdapat dalam kelas, apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan. Hal ini dilakukan dengan penuh afeksi, bukan represif. Memberi tahu dengan jelas apa konsekuensi dan reward yang bisa mereka dapat sebagi akibat dari perlakuan mereka. Yang perlu ditekankan adalah guru harus member alasan setiap ada kejadian yang membuat guru marah. Bukan marah-marah yang tidak jelas juntrungannya.
·         Memperkenalkan mereka pada macam-macam tes yang mungkin mereka nanti hadapi seperti pilihan ganda, mengisi titik-titik, dan mencocokkan jawaban dan soal.
·         Membuat tiap perkenalan bidang studi menjadi sesuatu yang menarik dan akhirnya mereka setuju bahwa bidang itu penting untuk dipelajari. Misalnya, PKn disamakan seperti memperkenalkan aturan dalam kelas. Tanyakan bagaimana kalau kelas tidak ada aturannya, pasti kacau. Hal-hal seperti ini yang akan mereka pelajari nantinya.
·         Dan banyak aktivitas yang guru bisa berika secara menyenangkan lainnya.